Social Icons

Pages

17 April 2014

Contoh Karangan Narasi



                                                         CERITA KESEHARIANKU

        Hai, teman-teman! Namaku Aziz, aku adalah anak ke-4 dari 5 bersaudara. Ayahku bekerja sebagai petani dan Ibuku bekerja sebagai ibu rumah tangga. Aku tinggal disebuah desa yang dekat dengan sungai Ciherang, meskipun seringkali banjir setiap musim penghujan, namun aku dan keluargaku tidak ingin pindah dari desa ini, karena disinilah tempatku dan keluargaku dibesarkan.
Setiap hari, aku dibangunkan Ibu pada pukul 04.30. Kata Ibu, aku harus bangun lebih awal sebelum adzan subuh berkumandang, agar aku dapat bersiap-siap untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Ayah selalu mengajakku shoat subuh sembari belajar membaca Al-quran bersama teman-teman setelah sholat subuh. Meskipun Ayah sangat sederhana, namun kehebatannya dalam membaca Alquran membuat aku selalu bangga.
Setelah sholat subuh dan belajar membaca Al-quran, sekitar pukul 06.00 aku kembali ke rumah untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Akupun mandi dan membantu Ibu mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Setelah semuanya rapi, pukul 06.30 aku berangkat ke sekolah diantar ayah menggunakan sepeda tua kebanggaannya. Disepanjang jalan, ayah selalu bercerita tentang masa kecilnya dulu. Jarak yang jauhpun terasa dekat karena cerita ayah selalu seru dan tak membosankan.
Pukul 07.00 aku tiba disekolah dan berpamitan dengan Ayah, Ayahpun kembali mengayuh sepedanya untuk pergi ke sawah. Aku duduk dikelas lima, guru dan teman-temanku sangat ramah. Alhamdulillah, meskipun serba kekurangan, aku berhasil meraih peringkat pertama sejak kelas 1 SD. Kata ibu, semangat belajar lebih mahal harganya daripada benda apapun. Aku selalu belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh karena dukungan dari ayah dan ibu.
Sepulang sekolah, biasanya aku sholat dzuhur dan makan siang, kemudian pergi ke sawah untuk mengantarkan makanan kepada ayah. Di gubuk sawah, aku mengerjakan PR yang diberikan ibu guru disekolah, aku tidak mauu menunda-nunda PR, soalnya kalau ditunda, malah jadi lupa. Sekitar jam 17.00, aku dan Ayah pulang kerumah untuk melepas lelah. Ibupun telah menyediakan makanan yang enak-enak untuk kami.
Setelah sholat magrib, aku membaca Alquran sampai adzan isya berkumandang, kemudian aku membaca pelajaran yang akan dipelajari besok. Hmmm... inilah cerita harianku, bagaimana denganmu?

Contoh karangan narasi,,, (mereun) :D

13 April 2014

Bravo PKS!

Saya bukan kader PKS, bahkan bukan pengurus PKS di tingkat manapun. Tapi saya akui simpati kepada perjuangan PKS. Berapa banyak anak muda di social media yang berkata hal yang sama dengan saya, puluhan? ratusan? jutaan?. Tengoklah dengan kejujuran, berapa banyak wall (dinding) para anak muda di social media yang di hiasi dengan hal berbau PKS, baik itu di facebook maupun di twitterland. Apakah mereka lakukan itu karena ada yang meminta? apa karena ada yang memerintah?
Nama yang mereka buat di dalam akun socmed; adalah memakai nama asli bukan nama bohongan alias bukan seperti nama akun anonim bayaran yang hama demokrasi, mereka memang 'diperintahkan' hati mereka untuk PKS. Hati mereka lah yang telah memilih PKS dan itu tiada ada orang atau pihak yang meminta atau mentintahkan. Jika hati yang berbicara; maka militansi adalah hal yang pasti ada tanpa dibayar dan tanpa di perintah.
Mereka para hati serta jantung PKS; bersedia siap siaga, siang dan malam dalam menjaga dan mengawal surat suara yang diperoleh PKS di TPS TPS sampai ke KPU pusat. Ini sama persis ketika mereka tanpa di bayar dan diperintah; melakukan advokasi serta direct selling terhadap PKS di social media. Generasi macam apakah itu?
Ketika demokrasi memberi tontonan ketidakdewasaan lewat berbagai kecurangan pemilu serta praktek politik uang, fenomena anak muda simpatisan PKS bisa dijadikan sebuah patron pendidikan politik yang baik dan benar. Bersama, bersatu dalam jamaah untuk sebuah nama; PKS. Ini urusan hati, panggilan hati menyebabkan mereka ikhlas melakukan apapun juga untuk PKS, karena mereka percaya masih memiliki harapan atas nasib bangsa ke depan, toh; yang mereka bela bukan partai paling korup di indonesia, toh; yang mereka perjuangkan bukan partai yang mengkhianati rakyatnya. Bagi mereka; PKS adalah solusi kebangsaan.
Saya menganggap apa yang mereka perbuat dan lakukan adalah hal yang wajar dalam sebuah pilihan kehidupan, memilih sesuatu dengan logika mana, pilihan terbaik buat bangsa. Yang justru ironis adalah adanya pihak yang tidak suka dengan kebersamaan dan kesolidan mereka terhadap PKS. Ironis; karena terkadang memakai logika berpikir negatif; dengan membawa kalimat kasar dan nama binatang, bukankah itu justru semakin memberi tanda yang jelas sebagai pemisah? yang satu adalah kubu memperjuangkan hati nuraninya atas pilihan kepada PKS dan pantas lalu mereka bersama dan mensolidkan barisan, sedangkan kubu yang lain adalah kubu yang benci dan dengki atas kebersamaan dan kesolidan para anak muda itu kepada PKS.
Harusnya publik bisa melihat dengan jelas; kubu mana yang benar dan kubu yang mana yang selalu termotivasi untuk menghancurkan. Bravo PKS!
"membangun barisan kuat itu kunci nya terletak pada hati, dan hati lah yang memanggil dan menyatukan pemikiran dan gemgaman tangan mereka menjadi satu dalam barisan yang kuat dan kokoh; saling melengkapi satu sama lain dan tidak mudah terpisahkan"
-bang dw-
 

Instrumen

LEAF

,
 
Blogger Templates